MOVIE REVIEW: La La Land (2016)

La La Land
La La Land
©newyorker

Winner of 6 Academy Awards® including Best Director for writer/director Damien Chazelle, and winner of a record-breaking 7 Golden Globe® Awards, LA LA LAND is more than the most acclaimed movie of the year — it’s a cinematic treasure for the ages that you’ll fall in love with again and again. Emma Stone and Ryan Gosling star as Mia and Sebastian, an actress and a jazz musician pursuing their Hollywood dreams — and finding each other — in a vibrant celebration of hope, dreams, and love. – About La La Land

Finally, I can finish this unfinished draft.

Diawali dengan sebuah epilog yang ceria ala sunny days, film La La Land yang disutradarai oleh Damien Chazelle ini terasa berbeda dengan drama musical lainnya yang pernah kutonton. Mengenai konsep cerita, film La La Land berkisah tentang seorang wanita dan pria yang sama-sama bermimpi besar. Mia dan Sebastian, diperankan oleh Emma Stone dan Ryan Gosling berada dalam scene film yang mengisahkan perjuangan mereka dalam meraih mimpi. Tepatnya, kisah percintaan yang dibarengi dengan misi mengejar mimpi. Sepertinya konsep cerita tersebut merupakan trik Damien Chazelle untuk membawa batin penonton tenggelam pada cerita terlebih dahulu, sehingga bisa benar-benar memahami maksud sesungguhnya dalam film ini.

Sejujurnya, film La La Land memiliki awal cerita yang sangat membosankan. 30 menit pertama yang sangat menjenuhkan habis untuk memperkenalkan tentang latar belakang Mia dan Sebastian, yang sama-sama merupakan pemimpi besar. Mia bermimpi menjadi seorang aktris dan Sebastian bermimpi menjadi pianis jazz besar. Dua pemimpi ini akhirnya berhasil menghentikan kebosanan di menit selanjutnya dengan musik yang mereka nyanyikan sendiri dan kisah cinta yang menyenangkan. Well, bagian yang menyenangkan pada menit-menit ini menurutku adalah saat Mia dan Sebastian menari di planetarium, sambil melayang, diiringi Epilog piano La La Land, lalu sama-sama menyadari bahwa mereka saling jatuh cinta dan akhirnya memilih untuk menjadi sepasang kekasih.

 

La La Land
©top.tsite.jp
La La Land
©indiewire
La La Land
©lifestyle

“Someone in the crowd could be the one you need to know.”
– La La Land, 2017.

Tapi perjuangan mengejar mimpi sebenarnya tetap menjadi topik dan tema utama film ini, itu sebabnya kisah La la land tidak sama seperti drama musikal pada umumnya. Seperti apa yang Sebastian katakan, bahwa seseorang harus mengorbankan segalanya untuk mencapai mimpi. Begitulah yang terjadi pada kisah Mia dan Sebastian yang pada akhirnya berpisah dan menjalani hidup masing-masing.

Aku suka sekali dengan karakter Sebastian dalam film La La Land yang cukup dewasa dalam menghadapi Mia. Mengerjakan apa yang harus ia kerjakan dan menanggapi banyak hal yang terjadi dengan santai dan pikiran terbuka. Sebastian yang idealis, berubah menjadi sosok yang realistis dan dewasa saat berhadapan dengan Mia. Sayang sekali, aku kurang menikmati peran Mia yang dimainkan oleh Emma Stone. Cara Emma berekspresi terlalu berlebihan dan membuatku merasa bahwa Emma seperti tidak senyaman Sebastian dalam memainkan perannya. Atau bisa jadi, memang seperti itulah gesture dan ekspresi yang seharusnya. Selain itu, sosok Emma pada film La La Land masih sangat lekat dengan perannya sebagai Olive di film Easy A. Meskipun begitu, aku tetap suka dengan karakter Mia bagaimanapun cara Emma memerankannya. Mia memperlihatkan bentuk nyata dari para pengejar mimpi. Pantang menyerah, tapi kadang-kadang juga mudah kecewa pada realitas yang ia hadapi. Bagaimanapun, aku juga pernah merasa sangat kecewa ketika apa yang kuusahakan tidak berakhir sesempurna yang aku harapkan.

La La Land
©variety

Film dengan budget 30 juta dollar US ini tentunya memiliki scene-scene menarik yang membuatku terbayang-bayang selama beberapa hari setelah menontonnya. Well, aku menonton film La La Land sebanyak tiga kali. Alasannya, tentu saja karena kisahnya yang memang bagus dan beberapa scene yang aku suka sekali. Here they are:

1. A Lovely Night

La La Land
©yahooimage
La La Land
©davidbordwell

Dikemas dengan lagu yang juga menjadi original soundtrack film La La Land, scene ini memberikan pemandangan dan tarian yang cantik dari Mia dan Sebastian. Aku suka tariannya, musiknya, lirik, dan pemandangannya. I love everything in this scene!

2. Planetarium

La La Land
©lionsgate

Well, sebagai perempuan yang gemar sekali membaca dan menonton kisah cinta, scene ini tentu saja jadi favorit. Wait, tapi bukan itu poinnya. Bagian terbaik pada scene ini tidak terletak pada konsep romantisnya, melainkan bagaimana setting ini tampak dan terasa membuai. Yap, di planetarium ini, kisah La La Land kemudian berubah menjadi sangat magical. Adegan Ami dan Sebastian melayang di udara dengan taburan bintang-bintang, hmmm, well, sounds so ugh right? I think so. Agak iyuh tapi keren karena dikemas dengan sangat menarik. Aku memberikan standing applause untuk keberhasilan Damien mewujudkan setting planetarium yang memukau. Standing applause? You deserve it, dude!

3. Sebastian sings on the road

La La Land
©kwanmanie

Yup, haha. You love Gosling? Well, I do either! Tidak perlu dijelaskan lagi ap=a yang membuat scene ini jadi favoritku. If you love the handsome guy, Ryan Gosling, you already know the reason!

4. Sebastian and Mia sing “City of Stars” together

La La Land
©moviesinthephilippines

Scene ini menampilkan Sebastian dan Mia yang menyanyikan lagu “City of Stars” bersama. Chemistry yang dibangun oleh Emma Stone dan Ryan Gosling dalam scene ini sangat lekat dan sempurna. Terlihat dari gesture-nya saat bermain piano, Ryan Gosling benar-benar bisa memainkan peran Sebastian yang santai. Selain itu, lagu “City of Stars” juga deep banget. Hmmm, siapa sih yang tidak suka dengan lagu ini setelah menonton La La Land?

 5. Audisi Mia

La La Land
©cinemablend

Di scene ini, beberapa yang benar-benar sedih pun dimulai. Awalnya Mia diminta untuk membuat script cerita saat itu juga, lalu Mia memulai dan mengakhiri script buatannya dengan sebuah lagu yang cukup sedih. Hmmm, coba dengar baik-baik lagunya. Sedih ☹️

 

6. Sebastian dan Mia bertemu kembali di sebuah cafe setelah berpisah selama beberapa tahun (Epilogue)

La La Land
©i.ytimg

Hal pertama yang aku suka pada scene ini adalah keseluruhan musik yang menjadi salah satu background. Dimulai dengan pertemuan kembali Mia dan Sebastian (setelah lima tahun berpisah) di sebuah cafe saat Sebastian dan grup jazz-nya menampilkan musik mereka. Sebastian memainkan lagu kenangannya saat bersama Mia, “City of Stars”, lalu alur surealis pun dimulai. Scene ini aku anggap sebagai konsep “if only” scene atau alur alternatif. Yap, andai saja saat di cafe Sebastian langsung memberikan respon baik terhadap Mia. Andai saja Sebastian tidak menerima tawaran temannya (dimainkan oleh John Legend) untuk bergabung di band jazz-nya. Andai saja Sebastian bisa datang ke pertunjukan pertama Mia. Andai saja Sebastian tetap bersama Mia hingga Mia sukses berkarir sebagai aktris. Andai saja hingga mereka menikah dan memiliki anak. Andai saja yang pergi ke cafe tersebut adalah Sebastian dan Mia. Dan “andai saja”-”andai saja” yang lainnya. Scene pengandaian mengalir dari pertama kali pertemuan Mia dan Sebastian, saat mereka berpacaran, hingga menikah, memiliki anak, dan dalam perjalanan ke sebuah cafe. Dan berhenti di scene saat Sebastian memainkan piano tepat di depan Mia yang duduk bersama suaminya. Segalanya begitu melankolis. Konsep pengandaian, musik, dan akting yang keduanya mainkan. Looks pretty perfect. So stunning. Perpindahan setting dan alur pada scene ini dikemas dengan sangat rapi dan halus, tanpa membuat bingung sama sekali.

Baca: MOVIE REVIEW: Vanilla Sky (2001)

Original Soundtrack La La Land

Bukan hanya ceritanya saja yang menurutku bagus, original soundtrack film La La Land juga mampu membangun film ini menjadi satu kesatuan yang sempurna. 15 lagu yang begitu sempurna dan menjadi salah satu track list favorit. Standing applause untuk  Justin Hurwitz dan Marius de Vries yang telah menciptakan beberapa soundtrack film La La Land yang sangat sempurna. Melodi piano dan lirik yang sangat lovable dan romantic. Love it!

“City of stars
Are you shining just for me?
City of stars
There’s so much that I can’t see”
– La La Land, 2017.

Meskipun ending-nya tidak sesuai harapan, I must say, film Lala Land punya konsep cerita yang keren. Kombinasi sempurna dari musik, sastra, tari, dan drama, yang perlu menjadi bagian dalam 24 jam waktu yang kita miliki. Naskah Damien Chazelle perlu diperhitungkan mengingat banyak pesan-pesan tersirat yang cukup dalam bagi para pengejar mimpi. Film La la Land semacam memberikan pesan bahwa hidup tak pernah se-ideal yang kita harapkan dan idealisme yang kita tanam bisa jadi merupakan alasan kita kehilangan cinta dan mengalami sakit hati. Idealisme dan cinta, dua hal yang menjadi penyebab seseorang mudah mengalami dilema hebat. Standing appalause untuk Justin Hurwitz dan Marius de Vries, terutama untuk deretan soundtrack yang sangat membuai. Well, “City of Stars” is their biggest achievement in my opinion! I really-really-recommend this movie to you

Bu-bye!

© 2017 – Novi

WRITE A COMMENT HERE!